Anak Buah Nunun Beberkan Kronologis Suap Cek Pelawat

Anak Buah Nunun Beberkan Kronologis Suap Cek Pelawat

Mustholih – Okezone
Rabu, 7 Maret 2012 18:58 wib
 0  0 Email0
Nunun Nurbaetie (Heru Haryono/Okezone)

Nunun Nurbaetie (Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA – Ahmad Hakim Safari alias Ari Malangjudo membeberkan kasus dugaan suap cek pelawat senilai Rp24 miliar ke sejumlah anggota Komisi IX DPR pada 2004 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dia mengatakan, suap yang diduga dilakukan oleh Nunun Nurbaetie itu terjadi dari pukul 10.00 WIB hingga menjelang malam pada Selasa, 8 Juni 2004.

“Selasa, pukul 10.00 sampai 11.00 WIB, saya menerima telepon dari orang yang mengatakan mau ngambil titipan. Dia bilang, ‘pak saya mau ambil titipan dari ibu’,” kata Ari di depan Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan, Rabu, (7/3/2012).

Kepada Ari, orang yang meneleponnya mengaku berasal dari PDI Perjuangan. Belakangan, Ari mengenal pria tersebut bernama Dudhie Makmun Murod. “Orang itu minta (titipan) diantarkan ke (restoran) Bebek Bali (Senayan),” katanya.

Berhubung barang titipan tidak di tangan, Direktur  PT Wahana Esa Sejati itu kemudian pergi ke kantornya sendiri. Tidak berapa lama, Ngatiran, office boy PT Wahana Esa Sejati, mengantarkan empat kantong belanja bekas warna-warni, merah, hijau, kuning, dan putih. “Ketika saya terima langsung saya masukkan ke bagasi. Saya datang sendiri,” kata Ari.

Di tengah perjalanan, Ari mengatakan mendadak ditelepon oleh seseorang -belakangan diketahui Endin Soefihara dari PPP- yang memintanya bertemu di Hotel Century Park, Senayan. “Saya sanggupi karena lokasi berdekatan,” kata Ari yang mengatakan menemui Endin setelah terlebih dulu menemui Dudhie.

Saat betemu Dudhie, Ari mengaku tidak banyak melakukan pembicaraan. Kata Ari, Dudhie berniat segera pergi setelah menerima barang titipan. “Saya sempat minum dulu,” kata Ari.

Selesai bertemu dengan Dudhie, Ari segera meluncur ke Century Park untuk menemui orang dari PPP. Ari bertemu Endin di lobi utama. “Ada percakapan aneh dari dia, ini kalau kurang gimana? Saya (katakan) enggak tahu. Cuma disuruh Ibu. Oh ya kalau gitu, saya lagi sibuk,” kata dia. Menurut Ari, Endin langsung meninggalkan Century Park.

Setelah itu, Ari kembali ke kantor. Setelah tiba, Ari mengaku ditelepon oleh Hamka Yandhu dari Golkar. Pada pukul 17.00 WIB, Hamka tiba. “Dia tanya, udah diambil semua, saya bilang belum. Nanti ketemu habis maghrib. Dia segera tinggalkan ruangan saya,” kata Ari.

Selepas Magrib, Ari kedatangan empat orang tamu. Salah satunya adalah Udju Djuhaeri dari Fraksi TNI/Polri. Berhubung ruang kantornya sempit, Ari menemui keempat orang tersebut di ruang rapat. Ari mengaku sempat diperkenalkan masing-masing nama mereka, namun lupa.

“Saya serahkan kantong tidak ada warna (putih). Oleh Uju disobek, ada amplop empat. Sembari dibagikan, bapak-bapak dihitung, biar saya tidak disalahkan, kalau kurang. Bagaimana? Cukup. Hitung-hitung uang pensiun,” kata Ari menirukan ucapan Udju.

Setelah itu, melalui telepon selular, Ari melaporkan telah menjalankan semua perintah Nunun. “Saya sampaikan sudah diambil semua,” kata Ari.

Ari mengaku sebenarnya sedikit enggan menjalankan perintah Nunun. Namun berhubung dia bekerja dengan istri Wakil Kepala Polri, Adang Darajatun itu, Ari akhirnya menerima dengan berat hati. “Saya agak menolak. Tapi ibu meyakinkan hanya memberi hadiah,” kata Ari.

Ari  bekerja dengan Nunun dari 2000. Dia bekerja di PT Wahana Esa Sejati karena diajak Nunun. Sebelumnya, Ari bekerja di PT Astra Argo Lestari. “November diangkat oleh Nunun. Saya dapat tugas kembangkan kelapa sawit di Riau,” terang Ari.

Menurut Ari, sampai 2003 hingga 2004, dirinya lebih banyak mengurusi perkebunan kelapa sawit di Riau dan Sumatera Barat. Kebetulan, PT Wahana juga sedang membangun pabrik minyak sawit. “2004 melakukan uji kapasitas pabrik. Bulan Juni ditelepon Nunun pulang untuk diperkenalkan seorang tamu,” kata Nunun.

Senin, 7 Juni 2004 Ari bertemu Nunun di kantornya. Di sana sudah berdiri seorang pria, yang belakangan dikenal bernama Hamka Yandhu. “Ketika itu ibu to the poinT minta tolong sampaikan tanda terimakasih ke anggota dewan,” terang Ari.

Ari mengaku tidak tahu untuk apa tanda terimakasih itu. Dia cuma diberi pesan oleh Nunun akan ada yang menghubunginya lewat telepon. “Saya tidak tanya konteks apa. Saya tidak mungkin berdebat di depan tamu,” kata Ari.

Ketika Ari pamit keluar, pria yang bersama Nunun juga ikut-ikutan pamit. Ternyata, orang tersebut mengikuti Ari di belakangnya menuju kantor. “Enggak banyak bicara. Setelah sampai langsung pamit. Saya sempat mengantar ke mobil,” kata Ari.

Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan Nunun sebagai tersangka pada Mei 2011. Sebelum ditetapkan menjadi tersangka, Nunun sempat kabur ke luar negeri dengan alasan berobat ke Singapura. Hampir delapan bulan Nunun berada dalam pelarian.

Nunun pun dijerat dengan pasal penyuapan yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam kasus ini, sebanyak 26 anggota Dewan periode 1999-2004 telah ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK, bahkan kini telah ada yang berstatus terpidana.

(abe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s